Uncategorized

Ternyata Susun Balok Adalah Permainan Edukasi Anak

Disaat bingung memberikan mainan pada anak, mengapa tidak memberikan permainan menyusun balok? Mungkin terdengar “biasa saja” tetapi permainan ini adalah salah satu pilihan yang tepat dan ragam akan manfaat jika diperkenalkan di usia yang pas. Menurut penelitian, permainan balok ini sama dengan membuat puzzle yang sama-sama kategori permainan konstruktif dan mampu mengedukasi anak. Karena demikian, anak pada umumnya akan aktif membangun sesuatu jika bahan material sudah dipersiapkan dan disediakan sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Anak akan berimajinasi menyusun balok menjadi bangunan menara, gedung pencakar langit, jalan, rumah-rumahan, mobil-mobilan.

Dalam hal bermain susun balok tersebut berkaitan dengan kemampuan pada intelektual dan motorik anak. Di sini, anak akan mengeluarkan gagasan yang ada di dalam pikirannya, mengelompokan material yang ada, dan teliti disaat membangun bangunan ataupun konstruksi yang sedang ia kerjakan. Karena permainan ini tergolong terstruktur, anak dapat mengekspresikan aspek kecerdasan, seperti halnya spasial, sosial, kognitif, dan emosi. Untuk permainan konstruksi susun balok bisa dikenalkan pada usia balita. Untuk usia anak di bawah 2 tahun, bisa memberikan balok dengan ukuran-ukuran yang besar karena membantunya dalam menggenggam serta menyusun material dengan mudah. Jumlah balok yang bisa disusunnya pun masih tergolong sedikit serta berantakan di sana-sini. Bahkan bisa jadi, pada usia di bawah dua tahun, anak baru bisa memegang dan membolak-balikan baloknya. Mereka belum paham dengan konsep urutan, keteraturan, bentuk, maupun ukuran.

Ketika menjelang tiga tahun, barulah anak mulai mengenal permainan susun balok ini. Ia sudah memahami konsep ukuran besar-kecil dan urutan, karena kemampuannya yang mulai berkembang dan membaik. Yang ada di pikirannya sudah mulai bermunculan ide untuk apa yang ia lakukan pada balok-balok tersebut. Bisa dikatakan, anak sudah memaknai fungsi mainan ini, yang muncul perhatian pertama kalinya membuat sebuah rumah.

Ia mulai menumpuk balok-balok yang tersedia sambil memperhatikan ukuran besar- kecilnya, kesamaan pada warnanya, dan keseimbangan bangunan. Bentuk bangunan yang sederhana yaitu dengan membuat menara setinggi-tingginya. Ketika membangun dari balok-balok yang tersedia, anak sebetulnya sudah melakukan peniruan terhadap apa yang dilihatnya dari kesehariannya ditambah juga imajinasinya terhadap kreasi sendiri. Dalam kemampuan membangun sebuah konstruksi, tentunya tidak semua sama walaupun usianya sama dengan yang lain.

Hal tersebut dikarenakan kemampuan dalam kematangan motorik halus masing- masing serta stimulasi dari orang tua tersebut.
Di dalam sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Purdue, untuk melakukan potensi meningkatkan dua keterampilan dengan memberikan edukasi permainan balok semi yang terstruktur. Yaitu, fungsi eksekutif dan matematika. Hal ini, sangat penting bagi persiapan anak untuk masuk kedalam jenjang taman kanak-kanak. Namun, ada juga ahli yang menyatakan bahwa permainan balok ini belum bisa menjelaskan secara bukti empiris yang menjelaskan dari pernyataan yang telah dikemukakan, khususnya yang berkaitan dalam matematika dan perkembangan fungsi eksekutif.

Karena, hal tersebut ingin memahami bahwa studynya belum membuahkan hasil, berdasarkan hasil penelitian bahwa blok semi terstruktur bisa meningkatkan keterampilan pada berhitung, pengenalan bentuk, bahasa matematika, dan keterampilan matematika. Selain fungsi itu, terdapat dua indikator eksekutif, termasuk di dalamnya fleksibilitas kognitif dan fungsi dari eksekutif global mulai nampak bekerja di sana. Lalu, terdapat fungsi eksekutif di mana ini lebih mengarah kepada kemampuan dan mengingat serta menggunakan sebagian respon lingkungan. Kognitif dan fungsi dari eksekutif global mulai nampak bekerja di sana. Lalu, terdapat fungsi eksekutif di mana ini lebih mengarah kepada kemampuan dan mengingat serta menggunakan sebagian respon lingkungan.